PIDATO - Galuh Irawan Maya Sari "Melestarikan Budaya Nasional sebagai santri Generasi Penerus Bangsa dan Negara"
Melestarikan Budaya Nasional sebagai
santri Generasi Penerus Bangsa dan Negara
Hadirin
semuanya…
Jadi
santri jangan gemulai
Jadi
santri harus berani
Sebelum
pidato dimulai
Dengarkanlah
pantunku ini
Si
akang beli baju army
Si
dede bagian bayarnya
Kepada
master of ceremony
Terima
kasih untuk waktunya
Hadirin
sekalian…
Berpisah
dengan doi di waktu dhuha
Membuat
rindu tak terukur
Pertama
dan paling utama
Marilah
kita mengucap syukur
Pada
kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin menyampaikan pidato yang berjudul: "Melestarikan
Budaya Nasional sebagai santri Generasi Penerus Bangsa dan Negara”
Budaya
adalah harta yang tak ternilai dari suatu bangsa. Ia merupakan warisan yang
telah dibentuk oleh nenek moyang kita melalui sejarah panjang perjalanan bangsa
ini. Budaya nasional adalah ciri khas yang membedakan kita sebagai bangsa
Indonesia di tengah keragaman dunia. Namun, budaya ini bukanlah semata-mata
tanggung jawab generasi sebelum kita, tetapi kini menjadi amanah yang harus
kita jaga dan kita lestarikan sebagai generasi penerus. Santri bukan hanya
pewaris masa lalu. Santri adalah arsitek masa depan! Kalian yang akan membangun
negeri ini, bukan dengan kekuatan fisik semata, tapi dengan pengetahuan, etika,
dan cinta kepada bangsa.
seperti yang kita ketahui, Indonesia adalah
negara yang kaya akan budaya. Setiap daerah memiliki tradisi, seni, dan
kearifan lokal yang menjadi identitas bangsa. Di sisi lain, kita sebagai santri
juga memiliki tanggung jawab moral dan keagamaan untuk menjaga nilai-nilai
Islam dan menjadikannya selaras dengan budaya lokal yang tidak bertentangan
dengan syariat.
Selain menjaga budaya, santri juga memiliki peran penting dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah. Tradisi para kyai zaman dahulu mengajarkan kita pentingnya kebersamaan, saling membantu, dan menghormati perbedaan. Nilai-nilai ini bisa kita temukan dalam kehidupan pesantren, seperti semangat gotong royong, kebiasaan berbagi ilmu, dan menghormati guru serta sesama santri. Semangat ini harus kita bawa ke masyarakat luas. Santri harus menjadi teladan dalam menjalin hubungan baik, tidak hanya dengan sesama Muslim, tetapi juga dengan mereka yang berbeda agama dan budaya. Dengan cara ini, ukhuwah Islamiyah yang kita bangun akan semakin kokoh dan menjadi pondasi untuk menjaga persatuan bangsa
Santri
adalah agen perubahan yang menjalani jihad (perjuangan) untuk meningkatkan
kualitas hidup mereka dan masyarakat.
Berikut
adalah dalil tentang jihad Q.S. Al-ankabut : 6 yang berbunyi
وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ
ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Artinya:
“Dan barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk
dirinya sendiri. Sungguh, Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari
seluruh alam.” (QS. Al-Ankabut: 6)
Ayat
ini mengajarkan bahwa usaha, perjuangan, atau jihad yang dilakukan seseorang
akan kembali manfaatnya kepada dirinya sendiri, karena Allah tidak membutuhkan
amal perbuatan kita, tetapi kita yang memerlukan rahmat dan ridha-Nya.
Sebelum
pidato ini saya tutup saya akan berpantun
Di
taman ada mawar berduri
Di
sebelahnya ada bungkus mie kari
Aku
bangga menjadi santri
Karena
santri adalah harapan negeri
Comments
Post a Comment